November 14th, 2007 by sandikala
Tak ada teman yang lebih dapat diandalkan daripada hujan
Digigilkannya sekujur kota sehingga malam itu
Bapakmu merangkak lebih cepat ke dalam selimut ibumu
Tak ada teman yang lebih menyenangkan daripada hujan
Digenanginya jalan dan selokan, diberikannya kau kolam
renang sekaligus lapangan bola paling luas di dunia
Tak ada teman yang lebih pengertian daripada hujan
Didengarkannya kau memadu-padankan kata dengan resah
Untuk dihadiahkan pada kembang kelas sebelah
Ya, tak ada teman yang lebih paham daripada hujan
Dirangkumnya sedu-sedan semua orang
Waktu tubuhmu diturunkan ke dalam liang
Nalaprama, Nov 2007
Posted in Uncategorized | 10 Comments »
November 14th, 2007 by sandikala
di batas kata disodorkannya sebuah buku
selepas ini yang ada hanya sepi, kau tahu?
di dalamnya kulihat berlembar-lembar hari
yang pernah kami gerimisi bersama
aku akan ke sini tiap petang –katamu,
kalau-kalau kau ingin menjilid kenangan
kuambil bekal tanda tanya seperlunya
lalu berbalik pergi
sesampai di puisi tak ada jalan untuk kembali
kau pun tahu itu
Nalaprama, Jan-Nov 2007
Posted in Uncategorized | No Comments »
November 14th, 2007 by sandikala
- lia -
“Tuhan Allah, tolong jaga bapak, mamak dan abangku
malam ini. Jagalah tidur kami ya Tuhan Yesus
tidur bapak, mamak, dan abangku malam ini.
Amin.”
Ah,
pantaslah seribu setan dan iblis tak kunjung
mampu membuat bajingan satu ini mampus di rantau.
Ternyata saban malam adikku menggandakan Tuhan
Satu untuk melindungi keluarga kami
Satu lagi untuk berjaga-jaga
di malam-malam aku lupa caranya berdoa
Nalaprama, Juli 2007
Posted in Uncategorized | No Comments »
November 14th, 2007 by sandikala
pokok anggur yang nyaris tandas
itu menjulurkan rantingnya,
"sengaja kusimpan bulir
paling darah ini
untuk memetik hausmu."
demi mengecapnya, layulah satu
per satu akar rambat yang menyumbat
lidahnya mengaku,
"ya Mabukku
dan Sadarku!"
Nalaprama, Apr 2007
Posted in Uncategorized | No Comments »
November 14th, 2007 by sandikala
tentang kita tak banyak orang menuliskan cerita
wajar saja, apa istimewanya kisah dua roda
onthel sisa jaman belanda? –gurau mereka
ah, kalau saja mereka mengamati
bagaimana dalam suatu keberjarakan yang pejal
jatuh bangun kita belajar menyeimbangkan pedal
di depan kupilihkan kau arah, bukan
karena enggan mengalah, tapi semata karena
kaukayuhkan untukku satu-satunya alasan
sedang mereka membualkan tentang semonosok-sebodi
lalu meributkan siapa berwenang memegang setang
siapa yang cukup membonceng di belakang
biar mereka mengkhawatirkan soal bensin dan
dempul. lebih baik pusingkan kerentanan kita
masuk angin, atau menertawakan pangkasan
aspal di kepala kita yang semakin botak
untuk apa mencampuri debat mereka tentang langit
di sana, bila yang penting adalah mengenali perangai bumi
di sini: mana jalur yang cukup padat
mana lumpur yang membikin lambat
atau paku yang sesekali khianat
dalam hal ini, maafkanlah jari-jariku yang
tidak pernah cukup panjang untuk menyeka
perih saat lukamu dibersihkan
sedapatnya kutemani kau tercagak dalam
diam, seraya membiarkan waktu (tabib
yang agung itu) menambal setiap demam
dan kalau sajak yang kaupesan ini
katanya lebih mirip prosa, maklumi saja
kita sisihkan bahan bagi hidup mereka
yang membosankan. mari nikmati bagian kita
ketegangan menebak-nebak petualangan
apa lagi yang tersembunyi di balik tikungan
hingga pada suatu senja, kita mesti
berhadapan dengan kenyataan kalau
otot kawat tak lantas berarti kebal karat
tulang besi pun belum cukup untuk mengabadi
dan untuk pertama kalinya kita biarkan
Yang Tak Terelakkan
menentukan selanjutnya perjalanan
Nalaprama, 2006-2007
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
June 10th, 2007 by sandikala
sekian ribu tahun sekali
Tuhan menyelusup dan
menggelitiki perut bumi hingga
menggerinjal kegelian
tak berhenti sampai kita menangis
terengah-engah kehabisan tenaga
untuk menanggapinya dengan senyuman
(Nalaprama, MonSU 27 Mei 2007)
Posted in Uncategorized | No Comments »
June 8th, 2007 by sandikala
maaf, aku sedang ke luar
menemani Tuhan
berbagi keabadian
anggap saja di sepi sendiri, oke?
(Nalaprama, Juni 2007)
Posted in Uncategorized | No Comments »
March 2nd, 2007 by sandikala
hidup itu mungkin mirip sebuah teka-teki silang
yang kauisi setiap minggu petang
sederet pertanyaan yang gemar beranak
dan memaksamu memutar otak
membolak-balik koran bulan lalu untuk mencari
nama bekas menteri yang baru saja mati
atau kamus untuk mengerti istilah
suatu negeri antah berantah
kelak kau akan belajar semuanya sesederhana
kotak-kotak hitam putih itu: hanya
ada sedikit tempat bagi pemenang
selebihnya harus puas jadi loakan
(Nalaprama, Feb 2007)
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
March 2nd, 2007 by sandikala
Agama itu mungkin mirip kopi. Setiap tempat memiliki
jenis yang berbeda, dikemas dalam berbagai
bentuk dan nama. Setiap orang menikmati
dengan caranya sendiri: dengan gula atau krim,
panas atau dingin, dan sebagainya.
Aku sendiri menggemari kopi dari daerah asalku.
Mungkin karena terbiasa atau karena cuma itu
yang tersedia di rumah. Temanku bilang lebih
enak kopi luar negeri yang katanya
tanpa ampas jadi tidak mengotori gigi.
Makin kami berdebat makin pening kepala dibuatnya.
Yang tak juga hilang padahal kopi diseduh makin
kental. Karena tidak ada yang mau mati lebih
dulu untuk membuktikan akhirnya kami sepakat
lebih baik cuci kaki lalu berisitirahat.
(Nalaprama, Feb 2007)
Posted in Uncategorized | No Comments »
March 2nd, 2007 by sandikala
kedua belas angka itu sedang asyik berdebat
tentang tik-tok siapa yang paling hebat
ketika lonceng menyela dengan dentangnya
yang membungkam seisi menara
seolah memaksa mereka kembali menunduk
mengeja satu persatu huruf sang waktu
mengabaikan sepasang tanganku
yang gemetaran
menyusun ulang doa yang tak pernah khusyuk
(Nalaprama, Feb 2007)
Posted in Uncategorized | No Comments »